Sabtu, 18 September 2010

HARGAILAH MILIK ORANG LAIN

CERDIG112006.
LAYANGAN ITU TAK BOLEH KAU MILIKI.
- milik orang lain harus dikembalikan.
Oleh : Tri Ramidjo.

Di bulan Juli udara tanah Merah – Digul sangat panas.
Tapi kami anak-anak Digul sangat senang sebab sekolah libur. Apalagi kalau orangtua kami bersama rombongan oom dan tante mengajak pergi berpiknik. Biasanya kami piknik di gisik Salamah atau ke Glagah dua.

Gisik salamah adalah tepian berpasir halus di tepi sungai Digul sebelah hulu Tanah Merah. Di namakan gisik Salamah karena, ibu Salamah yang juga orang buangan (interniran yang diasingkan oleh Belanda ke Digul) sering menghibur diri berenang-renang di tepian kali Digul dan karena seringnya ibu Salamah berenan-renang di situ maka tepian itu dinamakan Gisik Salamah. Sedangkan glagah dua adalah tumbuhan rumpun glagah di tepian sungai Digul yang kedua. Di tepian sungai Digul ini ada tempat-tempat yang ditumbuhi glagah. Kalau kita berperahu mudik (ke hulu sungai Digul ) menyusuri pantai atau pinggir kali Digul kita akan menemukan tumbuhan rumpun glagah. Rumpun glagah yang pertama kita temukan itu dinamakan glagah 1. Setelah mengayuh jauh dari rumpun gelagah satu tadi kita akan menemukan tumbuhan glagah lagi dan rumpun glagah itu kita sebut glagah 2 dan seterusnya,
Aku tak bisa mengingat berapa jauhnya jarak dari gelagah 1 ke glagah 2, tapi menurut ingatanku waktu kecil jarak itu sangat jauh.

Liburan sekolah kali ini tidak ada yang pergi berpiknik. Bersama teman-teman aku pergi ke kebun oom Saleh di ujung timur kampung B. Kebun itu baru dibuka dan tanahnya cukup luas dan habis dibakar. Tanah itu Baru sebagian kecil yang sudah dicangkul dan ditanami mentimun. Oom Saleh yang punya kebun ini seorang bujangan tidak atau belum beristeri atau mungkin isterinya belum ikut ke Digul. Dengan teman-temanku Rusdi, Karsiti, Lisnari, Supadmoyo, iyat,Triharsono, Sutomo, Sutimah dll.
Mas Supad yang tertua berpesan, bahwa kami main di kebun oom Saleh tidak boleh memetik tanaman apa pun kecuali buah ciplukan dan selasihdandi – buah selasihdandi ini dinamakan buah “krisis” karena buah ini mula-mula ditemukan di rumah Krisis –anak perempuan oom Subroto petugas rumah sakit bagian pembrantasan malaria (malaria besrijding).
Kami tidak berani berlama-lama bermain di kebun oom Saleh ini karena lokasinya dipinggir hutan tempat lalu lintas penduduk asli Papua (kami menyebutnya orang kaya-kaya) kalau mereka masuk ke kampung tempat orang-orang buangan bermukim.

Sebelum ashar kami pulang tetapi tidak langsung pulang ke rumah masing-masing kami berhenti di bawah pohon cemara dekat jembatan perbatasan antara kampung B dan kampung C. Hasil kami mencari buah cipukan dan buah krisis kami bagi rata. Semua mendapat bagian yang sama. Buah ciplukan yang belum matang betul dan asam rasanya, tidak kami bagikan tapi terserah siapa yng mau ambil boleh. Hanya pesan mas Supad, ciplukan yang masih asam sebaiknya jangan dimakan tapi buang saja sebab bisa mengakibatkan murus-murus. Sesudah masing-masing mendapat bagiannya kami pulang bersama.

Sampai di perempatan jalan rumah meneer Suyitno guru kami kami lihat di angkasa tengah beradu ( sangkutan ) layangan oom Sukarman dengan layangan mas Warno. Mas Supad, Triharsono, aku sendiri (Ribut) dan umumnya anak laki-laki memang suka sekali bermain layangan. Kedua layangan itu belum benar-benar tinggi dan belum sepenuhnya mendapat angin. Oom Sukarman dan mas Warno mengulur benang layangannya. Layangan oom Sukarman yang bergambar bintang itu menukik tajam dan………del…..putuslah layangan mas warno.

Layangan yang putus itu kleyang-kleyang dibawa angin turun ke bawah. Kami berlari-lari mengejar layangan putus itu. Triharsono yang larinya paling gesit berhasil menangkap sisa benang layangan yang putus itu.

“Horee, aku yang dapat.” Serunya dengan riang.
“Ya, kamu yang berhasil dan menang lomba lari kali ini,” kata mas Supad.
“Jadi layangan ini jadi milikku, kan. Nanti aku minta benang jahit bapak sedikit.” Kata Triharsono. kegirangan,

Supad dan Triharsono adalah kakak beradik. Kakak beradik itu yang saya kenal yang tertua Supadmoyo, Triharsono, Herutomo, Titi Armani, Harmuniatun dan ada lagi yang lain di Australia adalah anak-anaknya oom Prawito- berasal dari Pati (Jawa Tengah) dan di Tanah Merah Digul bekerja sebagai tukang jahit pakaian (penjahit)
Mas Supad abangnya Triharsono nyletuk.

“Layangan itu sebelum putus milik siapa, Tri?”
“Milik mas Warno”, Jawabnya.
“Kemarin kamu kehilangan pinsil cap buaya karena kurang hati-hati membawa tas sekolah tidak ditutup rapat sedang pinsilnya tidak kamu masukkan di kotak pinsil. Siapa yang menemukan pinsilmu?’ Tanya mas Supad.
“Mas Marfandi yang menemukan di jalan depan rumah oom Hatta (Drs.Mohamad Hatta) dan oom Karso.” Jawab Triharsono.
“Dikembalikan tidak oleh mas Marfandi?” Tanya mas Supad.
“Tentu saja dikembalikan, sebab pinsil itu milikku dan ada tanda namaku di pinsil itu.” Jawabnya.

“Jadi kita tidak boleh memiliki barang orang lain yang bukan milik kita, bukan? Layangan putus dan kleang-kleang dibawa angin dan kau berhasil mengejar dan mendapatkannya. Kita semua berlomba lari mengejar. Tapi layangan itu tetap adalah milik mas Warno sama seperti pinsilmu yang hilang kemarin dulu itu.” Kata mas Supad.

“Mari kita ke rumah mas Warno mengembalikan layangannya.” Kataku.
Kami besama-sama ke rumah mas Warno. Rumah mas Warno berhadapan dengan rumah oom Djojo Soeprobo, guru di sekolah partikulir (swasta) MES (Malay English School yang mengajar anak-anak orang buangan golongan natura yang tidak mau tunduk kepada pemerintah Belanda.

Mas Warno senang dan berterima kasih, bahwa layangannya ditemukan kembali.
Mas Warno mengatakan, besok akan membuat gelasan benangnya lebih baik supaya bisa mengalahkan layangan oom Karman.

Kebetulan hari itu ayah mas Warno baru saja panen kacang tanah. Kami disuguhi kacang tanah rebus oleh ibu mas Warno.

Selesai menikmati kacang rebus, kami segera pergi mandi di kali Digul. Tanpa ganti baju dan tanpa mengeringkan badan dengan handuk, kami kenakan kembali pakaian semula dan pulang ke rumah masing-masing. Dan tentu saja kami mandi tanpa sabunan sebab kami memang tak punya sabun mandi. ***

Tangerang, 20 November 2006.-
---------------------------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar